السلام علىكم ورحمةالله وباركاته
Dulu, waktu Indonesia masih dijajah Belanda.
Orang2 pribumi dibuat jadi alat hiburan, suruh loncat2 di dalam karung. Suruh naik pohon yang dikasih pelicin semacam minyak atau oli bekas, sampe muka mereka belepotan minyak hitam, dan menurut para tentara Belanda itu sangat lucu. Para tentara pun tertawa terbahak-bahak.
Sebaliknya, orang pribumi sangat sedih karena cuma jadi bahan tertawaan orang Belanda bagaikan topeng monyet.
Mereka tidak sukarela melakukan itu, mereka dikasih beberapa bahan pangan, mereka rela melakukannya, mereka rela belepotan dan jadi bahan tertawaan penjajah hanya demi kebutuhan perut.
Kamu melakukan itu dengan atau sembari tertawa-tawa?
Kamu melestarikan itu seakan itu warisan leluhur kamu?
Iya benar, leluhur yang kelaparan yang menggantungkan rasa malunya untuk makanan dari para kolonial Belanda.
Kalian masih tertawa?
Harusnya kalian bersedih....
Bagaimana bentuk akal yang bilang
"ini harus dilestarikan"?
Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwas Hafidzahullah berkata ; "Demi dunia yg secuil kita rela menginjak orang lain.."
Barakallahu fiikum..

No comments:
Post a Comment